Rabu, 28 Oktober 2015

PERBANDINGAN TEORI BELAJAR KOGNITIF DAN TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK

Teori Belajar Behavioristik dan Teori Belajar Kognitif

Salah satu teori belajar, yang merupakan teori awal tentang belajar adalah Teori behaviorisme yaitu teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Ada 3 jenis belajar menurut teori behaviorisme yaitu (1) Respondent Conditioning, (2) Operant Conditioning dan (3) Observational Learning atau social cognitive Learning.
Teori kognitif mengacu pada wacana psikologi kognitif, dan berupaya menganalisis secara ilmiah proses mental dan struktur ingatan atau cognition dalam aktifitas belajar. Cognition diartikan sebagai aktifitas mengetahui, memperoleh, mengorganisasikan, dan menggunakan pengetahuan (Lefrancois, 1985). Proses kognitif telah menjadi penting di bidang penelitian psikologi, seperti psikologi perkembangan dan penelitian tetntang motivasi. Salah satu faktornya ialah terbatasnya penjelasan mengenai aktivitas manusia yang diberikan oleh behaviorisme.

 Pembelajaran: Pandangan Behavioristik dan Kognitif

Pandangan behavioris menegaskan bahwa pembelajaran merupakan perubahan perilaku, yang dengannya seseorang bertindak dalam satu situasi tertentu. Para ahli seperti J. B. Watson, E. L. Thorndike, dan B. F. Skinner dianggap sebagai psikolog behaviorisme karena mereka memfokuskan hampir segala hal pada perilaku yang dapat diamati dan perubahan-perubahan behaviorisme. Dalam kenyataan, banyak di antara behavioris awal bahkan menolak untuk mendiskusikan konsep pemikiran atau emosi, karena pemikiran dan emosi tidak dapat diobservasi secara langsung.
Sebaliknya, para psikolog kognitif seperti Jean Piaget, Robert Claser, John Anderson, dan David Ausubel mengatakan bahwa pembelajaran itu sendiri merupakan proses internal yang tidak dapat diobservasi secara langsung. Pembelajaran merupakan perubahan dalam kemampuan seseorang untuk merespon satu situasi tertentu. Menurut pandangan kognitif, perubahan perilaku yang para behavioris sebut sebagai pembelajaran hanya merupakan satu refleksi dari perubahan internal. Sekali lagi berbeda dengan kalangan behavioris, psikolog kognitif yang mengkaji pembelajaran tertarik pada variabel-variabel yang tidak dapat diobservasi seperti pengetahuan, makna, intensi, perasaan, kreativitas, pandangan, dan pemikiran.
Pandangan behaviorisme dan kognitif berbeda dalam banyak hal penting, dan perbedaan tersebut tampak dalam metode yang digunakan masing-masing kelompok untuk mengkaji pembelajaran. Satu karya awal mengenai prinsip pembelajaran behaviorisme dilakukan dengan menggunakan binatang dalam setting  laboratorium terkontrol. Kajian ini merupakan usaha untuk mengidentifikasi beberapa hukum pembelajaran umum yang akan berlaku pada semua organisme yang lebih tinggi (termasuk manusia) tanpa memandang usia, intelegensi, atau perbedaan individual.
Hukum yang mereka cari hendak digunakan untuk memprediksi dan mengendalikan perubahan perilaku setiap organisme (Estes, 1975). Di sisi lain, para psikolog kognitif lebih tertarik untuk menjelaskan bagaimana pembelajaran ada pada manusia dengan kemampuan dan usia yang berbeda. Mereka berusaha menemukan  bagaimana manusia yang berbeda memecahakan masalah, mempelajari konsep, menerima dan mengingat informasi, dan menyelesaikan banyak tugas mental yang kompleks.
Dengan mempertimbangkan pandangan behaviorisme dan kognitif, diperoleh definisi umum bahwa pembelajaran merupakan perubahan internal dalam diri seseorang, pembentukan asosiasi baru, atau potensi untuk memberikan respon baru. Pembelajaran merupakan perubahan yang relatif permanen dalam kapabilitas seseorang. Definisi ini mengakui fakta bahwa pembelajaran merupakan proses yang berlangsung dalam diri seseorang (pandangan kognitif), namun juga menekankan pentingnya perubahan perilaku yang dapat diobservasi sebagai indikasi bahwa pembelajaran berlangsung (pandangan behaviorisme).

    1. Kaitannya dengan Stimulus-Respon

Teori behaviorisme dengan model hubungan stimulus-respon, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman. Teori behaviorisme menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulans) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik. Stimulans tidak lain adalah lingkungan belajar anak, baik yang internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. Sedangkan respons adalah akibat atau dampak, berupa reaksi fisik terhadap stimulans. Belajar berarti penguatan ikatan, asosiasi, sifat dan kecenderungan perilaku S-R (Stimulus-Respon).
Adapun pandangan kognitif, melihat seseorang sebagai individu yang aktif. Mereka memulai pengalaman yang membawa pada pembelajaran, mencari informasi untuk memecahkan masalah, mengatur dan mengorganisir ulang apa yang sudah mereka ketahui untuk mencapai pembelajaran baru. Bukan secara pasif dipengaruhi oleh peristiwa lingkungan. Manusia secara aktif memilih, menentukan, mempraktekkan, memperhatikan, mengabaikan, dan membuat banyak respon lain ketika mereka mengejar tujuan. Salah satu pengaruh paling penting dalam proses ini adalah apa yang individu bawa pada situasi pembelajaran.
Baik para ahli teori behaviorisme maupun kognitif percaya bahwa penguatan merupakan hal penting dalam pembelajaran, meskipun dengan alasan yang berbeda. Penguatan akan meningkatkan keseringan merespon, tetapi penghapusan konsekuensi penguatan akan menurunkan keseringan itu. Behavioris menegaskan bahwa penguatan memperkuat respon. Sedangkan para ahli kognitif melihat penguatan sebagai sumber tahapan balik. Tangggapan balik ini memberi informasi mengenai apa yang biasanya terjadi ketika perilaku diulang. Dalam pandangan kognitif, penguatan pelajar merupakan reduksi hal yang tidak pasti yang menghasilkan satu makna pengertian dan pemahaman. Dengan kata lain, penguatan berasal dari konstruksi satu cara memahami yang efektif atas dunia dan tujuan-tujuan yang dicapai.



Aplikasi teori behaviorisme dalam pembelajaran :

    1. Mementingkan pengaruh lingkungan.
    2. Mementingkan bagian-bagian (elementalistik).
    3. Mementingkan peranan reaksi.
    4. Mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus respon.
    5. Mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya.
    6. Mementingkan pembentukan kebiasan melalui latihan dan pengulangan.
    7. Hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan

Implikasi teori behaviorisme dalam pembelajaran :

    1. Pembelajaran adalah upaya alih pengetahuan dari guru kepada siswa.
    2. Tujuan pembelajaran lebih ditekankan pada bagaimana menambah pengetahuan.
    3. Pembelajaran mengikuti aturan kurikulum secara ketat dan belah lebih ditekankan pada keterampilan mengungkapkan kembali apa yang dipelajari.
    4. Kegagalan dalam belajar atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum, dan keberhasilan atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah.
    5. Evaluasi lebih ditekankan pada respons pasif.

Aplikasi teori belajar kognitif dalam pembelajaran:

  1. Guru harus memahami bahwa siswa bukan sebagai orang dewasa yang mudah dalam proses berpikirnya,
  2. Anak usia pra sekolah dan awal sekolah dasar belajar menggunakan benda-benda konkret, keaktifan siswa sangat dipentingkan, guru menyusun materi dengan menggunakan pola atau logika tertentu dari sederhana ke kompleks,
  3. Guru menciptakan pembelajaran yang bermakna,
  4. Memperhatikan perbedaan individual siswa untuk mencapai keberhasilan siswa.

Implikasi teori kognitif  dalam pembelajaran:

  1. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
  2. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik.
  3. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
  4. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
  5. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.

Kelebihan teori belajar behaviorisme :

  1. Guru tidak banyak memberikan ceramah, tetapi instruksi singkat yang diikuti contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui stimulasi.
  2. Bahan pelajaran disusun secara hirarki dari yang sederhana sampai pada yang kompleks.
  3. Pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan.
  4. Metode behavioristik ini sangat cocok untuk pemerolehan kemampuan yang membutuhkan praktek dan pembiasaan



Kekurangan teori belajar behaviorisme:

  1. Pembelajaran siswa yang berpusat pada guru (teacher centered learning), bersifat mekanistik, dan hanya berorientasi pada hasil yang dapat diamati dan diukur.
  2. Murid dipandang pasif, perlu motivasi dari luar, dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru.
  3. Murid hanya mendengarkan dengan tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif.
  4. Penggunaan hukuman yang sangat dihindari oleh para tokoh behavioristik justru dianggap metode yang paling efektif untuk menertibkan siswa.


Kelebihan teori belajar kognitif:

  1. Menjadikan siswa lebih kreatif dan mandiri.
  2. Membantu siswa memahami bahan belajar secara lebih mudah
  3. Dapat menjelaskan Higher-Order Functions, karena melibatkan proses mental
  4. Membantu siswa untuk dapat mengontrol perilakunya sendiri
  5. Metode belajar kognitif ini menggunakan model Information Processing, yang dapat meningkatkan kapasitas berfikir dengan memproses pengetahuan serta mengolah informasi yang diekstraksi dari peristiwa-peristiwa yang ada dilingkungan sekitar. Seperti suara atau kata, gerakan benda, dan gambar.

Kekurangan teori belajar kognitif:

  1. Teori tidak menyeluruh untuk semua tingkat pendidikan.
  2. Sulit dipraktikkan khususnya ditingkat dasar

IMPLIKASI TEORI BELAJAR KOGNITIF DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR.


Jika ada kurikulum yang menekankan pada filosofi pendidikan yang berorientasi pada pembelajar (murid) sebagai pusat, learner-centered, maka model kurikulum seperti itulah yang diinspirasi dari pandangan Piaget. Sedangkan, beberapa metode pengajaran yang diterapkan pada kebanyakan sekolah di Amerika waktu itu seperti metode ceramah, demonstrasi, presentasi audi-visual, pengajaran dengan menggunakan mesin dan peralatan, pembelajaran terprogram, bukanlah merupakan metode yang dikembangkan oleh Piaget.
Implikasi dari teori piaget dalam pembelajaran adalah sebagai berikut :

a. Memusatkan perhatian pada proses berpikir anak, bukan sekadar hasilnya.
b. Menekankan pada pentingnya peran siswa dalam berinisiatif sendiri dan
keterlibatannya secara aktif dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran di kelas, pengetahuan diberikan tanpa adanya tekanan, melainkan anak didorong menemukan sendiri melalui preses interaksi dengan lingkungannya.
c. Memaklumi adanya perbedaan individual dalam hal kemajuan perkembangan sehingga guru harus melakukan upaya khusus untuk mengatur kegiatan kelas dalam bentuk individu-individu atau kelompok-kelompok kecil.

Menurut Piaget (William C. Crain) adalah benar bahwa belajar tidak harus berpusat pada guru atau tenaga kependidikan, tetapi anak harus lebih aktif. Oleh karenanya peserta didik harus dibimbing agar aktif menemukan sesuatu yang dipelajarinya. Konsekuensinya materi yang dipelajari harus menarik minat belajar peserta didik dan menantang sehingga mereka asyik dan terlibat dalam proses pembelajaran. Kesadaran anak akan keterlibatannya dalam proses pembelajaran perlu diarahkan guru. Oleh karena itu guru atau pendidik harus terlibat bersama peserta didik dalam proses belajar itu.
Selain itu Piaget juga mengisyaratkan bahwa kemampuan berpikir anak dengan orang dewasa itu berbeda. Implikasinya berarti bahwa sekuensi (urutan) bahan pembelajaran dan metode pembelajaran harus menjadi perhatian utama. Anak akan sulit memahami bahan pelajaran jika sekuensi bahan pelajaran itu lomcat-loncat.
Implikasi dari teori piaget lainnya adalah dalam proses pembelajaran guru atau pendidik harus memperhatikan tahapan perkembangan kognitif peserta didik.

Berdasarkan teori Piaget, pembelajaran inkuiri cocok bila diterapkan dalam kegiatan pembelajaran karena inkuiri menyandarkan pada dua sisi yang sama pentingnya, yaitu sisi proses dan hasil belajar. Proses belajar diarahkan untuk meningkatkan kemampuan berpikir, sedangkan sisi hasil belajar diarahkan untuk mengkontruksi pengetahuan dan penguasaan materi pelajaran baru. Selain itu, yang dinilai dalam pembelajaran inkuiri adalah proses menemukan sendiri hal baru dan proses adaptasi yang berkesinambungan secara tepat dan serasi antara hal baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki siswa.

Penerapan teori Bruner yang terkenal dalam pendidikan adalah kurikulum spiral dimana materi pelajaran yang sama dapat diberikan mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi, tetapi disesuaikan dengan tingkat perkembangan kognitif peserta didik. Artinya menunutut adanya pengulangan-pengulangan. Menurut Bruner belajar untuk sesuatu  tidak usah ditunggu sampai peserta didik mencapai tahap perkembangan tertentu, yang penting bahan pelajaran harus ditata dengan baik maka dapat diberikan kepadanya. Dengan kata lain perkembangan kognitif seseorang dapat ditingkatkan dengan jalan mengatur bahan belajar yang akan dipelajari dan menyajikannya sesuai dengan tingkat perkembangannya.
Menurut  Djamarah dan  Zain implikasi konsep belajar discovery dalam pembelajaran diantaranya :
    1. Simulation, guru mulai bertanya dengan mengajukan persoalan, atau menyuruh anak didik untuk membaca atau mendengarkan uraian yang memuata uraian permasalahan.
    2. Problem Statement, anak didik diberi kesempatan mengidentifikasi berbagai permasalahan.  Sebagian besar memilihnya yang dipandang paling menarik dan fleksibel untuk dipecahakan. Permasalahan yang dipilih itu selanjutnya harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, atau hipotesis, yakni pernyataan  sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang di ajukan.
    3. Data collection, Untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis ini, anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan  berbagai informasi yang relavan, membaca literature,m mengamati obyek, wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba sendiri, dan sebagainya.
    4. Data prossesing. Semua informasi hasil bacaan, wawancara observasi, dan sebagainya, semunya diolah, diacak, diklasifikasikn, ditabulasi, bahkan apabila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu.
    5. Verfication, atau pembuktian. Berasarkan hasil pengolahan dan tafsiran, atau informasi yang ada, pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek, apakah terjawab atau tidak, apakah terbukti atau tidak.
    6. Generalization. Tahap selanjutnya berdasarkan verfikasi tadi, anak didik belajar menarik kesimpulan atau generalisasi tertentu.
Pendekatan teori belajar kognitif ini lebih menekankan arti penting dari proses internal atau mental manusia. Dalam pandangan para ahli psikologi kognitif, tingkah laku manusia yang tampak tidak dapat diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental seperti, motivasi, kesengajaan, keyakinan dan sebagainya.
Meskipun pendekatan Teori belajar Kognitif sering dipertentangkan dengan pendekatan Teori Belajar Behavioristik, tidak berarti Teori Belajar Kognitif anti terhadap aliran Behavior. Hanya menurut para ahli Teori Belajar Kognitif, aliran bihavorisme itu tidak lengkap sebagai sebuah teori psikologi. Sebab tidak memperhatikan proses kejiwaan yang berdimensi ranah cipta seperti berfikir ; mempertimbangkan pilihan dan mengambil keputusan. Aliran behavior juga tidak mau tahu ranah rasa.
Dalam perspektif teori belajar kognitif, belajar pada asasnya adalah peristiwa mental, bukan peristiwa behavioral.

Tidak ada komentar: