Rabu, 28 Oktober 2015

Learning Concept Psychology Cognitive Theory JEAN PIAGET & JEROME BRUNER


Piaget mengemukakan bahwa Inteligensi adalah ciri bawaan yang dinamis. Sebab tindakan yang cerdas akan berubah saat organisme itu makin matang secara biologis dan mendapat pengalaman. Inteligensi adalah bagian integral dari setiap organisme karena setiap organisme yang hidup selalu mencari kondisi yang kondusif untuk keberlangsungan hidup. Bagaimana kecerdasan memanifestasikan dirinya pada waktu tertentu akan selalu bervariasi sesuai kondisi yang ada. Teori Piaget sering disebut sebagai Epistemology Genetic, karena teori ini mendasari pada hereditas atau genetic yang dibawa oleh orang tua. Istilah genetik yang dimaksud mengacu pada pertumbuhan developmental warisan biologi.
Piaget memandang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual dari fungsi intelektual dari pemikiran yang konkret menuju pemikiran yang abstrak. Piaget meneliti perkembangan intelektual berdasarkan struktur yang terbentuk didalam individu akibat interaksinya dengan lingkungan. Inteligensi pada umumnya dapat diartikan sebagai kemampuan psikofisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat (Reber, 1988). Jadi Inteligensi sebenarnya bukan persoalan kualitas otak saja, melainkan juga kualitas organ-organ tubuh. Akan tetapi, memang harus diakui bahwa peran otak dalam hubungannya dengan inteligensi manusia lebih menonjol daripada peran organ-organ tubuh lainnya. Karena otak merupakan “Menara Pengontrol” hampir seluruh aktivitas manusia.

Teori Belajar dalam Perkembangan Psikologi Kognitif Jean Piaget
 
Piaget membagi Inteligensi menjadi 3 aspek, yaitu :
  1. Scheme atau disebut juga struktur, adalah suatu pola tingkah laku yang dapat diulang. Scheme berhubungan dengan reflex bawaan seperti bernafas, makan, minum, dan struktur mental yang dapat diamati dan yang masih sukar untuk diamati.
  2. Content atau disebut juga isi, yaitu pola tingkah lakku spesifik saat individu dihadapkan pada suatu permasalahan.
  3. Function atau disebut juga fungsi, adalah cara individu dalam mencapai kemajuan intelektual berupa kecakapan organisasi dan kecakapan adaptasi. Adaptasi terhadap lingkungan dilakukan melalui 2 proses yaitu : assimilasi dan akomodasi. Dalam proses asimilasi seseorang menggunakan struktur atau kemampuan yang sudah ada untuk menanggapi masalah yang dihadapinya dalam lingkungan. Dan proses akomodasi seseorang memerlukan modifikasi struktur mental yang ada untuk mengadakan respon terhadap tantangan lingkungan.

Dapat dikatakan bahwa anak yang sedang mengalami perkembangan, struktur dan konten intelektualnya mengalami perubahan serta fungsi adaptasinya akan tersusun sehingga mempunyai struktur psikologis yang menentukan kecakapan berpikir anak. Maka Piaget mengartikan bahwa pertumbuhan intelektual terjadi karena adanya proses yang kontinu dari satu kondisi yang stabil atau imbang.
Piaget mengidentifikasi empat factor yang mempengaruhi transisi tahap perkembangan anak, yaitu; (1.) Kematangan, (2.) Pengalaman fisik atau lingkungan, (3.) Transmisi social, (4.) Self Regulation atau Equilibrium.
Selanjutnya Teori Piaget membagi tingkat perkembangan Kognisi anak dengan empat tahapan, yaitu :
  1. Tingkat sensorimotori (Dari lahir sampai sekitar usia 2 tahun)
Pada periode ini anak belajar mengenali objek dan bagaimana ia memanipulasikan objek tersebut. Dia juga belajar memahami arti dari ruang dan waktu namun belum memiliki peralatan konseptual yang memadai. Ia hanya dapat mengetahui hal-hal yang dapat ditangkap oleh inderanya.
  1. Tingkat Praoperasional (Dari usia 2 tahun sampai sekitar usia 7 tahun)
Pada periode ini anak mulai berpikir dengan kategori-kategori sederhana. Anak dapat menggambarkan atau menunjukkan objek secara simbolis, dan dapat menanggapi permanensi objeknya, sekalipun objeknya tidak hadir.
  1. Tingkat Operasi Konkret (Dari Usia 7 tahun sampai sekitar usia 11 tahun)
Selama periode ini anak dapat mengetahui symbol-simbol matematis. Dia terikat erat dengan objek dan peristiwa yang muncul juga dapat menguasai konsep konservasi dari massa, panjang dan isi. Pada periode ini anak mulai mengurangi sifat Egosentrienya dan lebih menonjolkan sifat sociocentrisnya, seperti membentuk Peer Group.
  1. Tingkat Operasi Formal (Dari usia 11 tahun dan masa sesudahnya)
Selama periode terakhir dari operasi formal, kapabilitas kedewasaan dalam penalaran, daya abstraksi dan berpikir secara hipotesis anak muncul secara berangsur-angsur. Pada periode ini ia dapat memberikan hipotesa, statement dan pemecahan masalah berdasarkan data-data yang konkret. Ia telah dapat memisahkan factor-faktor yang menyangkut dirinya dan mengkombinasikan dengan factor-faktor lain diluar dirinya.

 Teori Belajar Discovery Learning Jerome Bruner

Belajar merupakan aktifitas yang berproses, tentu didalamnya terjadi  perubahan-perubahan yang bertahap. Perubahan-perubahan tersebut timbul melalui tahap-tahap yang antara satu dan lainnya bertalian secara berurutan dan fungsional. Yang menjadikan dasar ide teori Jerome Bruner ialah pendapat Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan secara aktif dalam belajar di kelas. Oleh karena itu, konsep pembelajaran ini secara sadar mengembangkan proses belajar siswa yang mengarah kepada aspek jiwa dan aspek raga. Sesuai dengan pengertian belajar itu sendiri yaitu : Serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan linkungannya yang menyangkut kognitif, efektif, dan psikomotorik.
Dalam konsep belajar menurut Jerome Bruner ada tiga tahap yang ditempuh oleh siswa, yaitu: Tahap Informasi (tahap penerimaan materi), Tahap Transformasi (tahap pengubahan materi) dan Tahap Evaluasi (tahap penilaian materi). Dan konsep ini merupakan konsep belajar yang menentang konsep belajar aliran behavioristik. Nasution menjelaskan bahwa ketiga tahapan konsep penemuan Jerome Bruner tersebut saling berkaitan di antaranya:
  1. Tahap Informasi (tahap penerimaan materi)
Dalam tahap ini disetiap pelajaran kita proleh sejumlah informasi, ada yang menambah pengetahuan yang telah kita miliki, ada yang memperhalus dan memperdalamnya, ada pula informasi yang bertentangan dengan apa yang telah kita ketahui sebelumnya , misalnya tidak ada energi yang lenyap.
  1. Tahap Transformasi (tahap pengubahan materi)
Dalam tahap ini informasi yang kita terima itu harus dianalisis , diubah atau ditransformasi kebentuk yang lebih abstrak atau konseptual agar dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih luas. Dalam hal ini bantuan guru sangat diperlukan.
  1. Tahap Evaluasi (tahap penilaian materi)
Dalam tahapan ini informasi yang diperoleh itu dinilai seberapa besar pengetahuan yang diperoleh  dan ditransformasikan itu dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala-gejala lain.

Bruner adalah tokoh yang mencetuskan konsep belajar penemuan (discovery), Beliau juga seseorang pengikut setia teori kognitif, khususnya dalam studi perkembangan fungsi kognitif, dan  menandai perkembangan kognitif manusia. Menurut Bruner perkembangan kognitif seorang anak terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan dengan cara melihat lingkungan, yaitu tahap enaktif, ikonik dan simbolik.
 Tahap enaktif pada tahap ini anak didik melakukan aktivitas-aktivitas dalam usaha memahami lingkungan sekitarnya. Peserta didik melakukan observasi dengan cara mengalami secara langsung suatu realitas. Artinya, dalam memahami dunia sekitar, anak menggunakan pengetahuan motorik. Misalnya, melalui gigitan, sentuhan, pegangan, dan sebagainnya.
Tahap ikonik pada tahap ini anak didik melihat dunia melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal, dalam memahami dunia sekitarnya. Anak belajar melalui bentuk perumpamaan (tampil) dan perbandingan (komparasi).
Tahap simbolik pada tahap ini peserta didik anak didik mempunyai gagasan-gagasan abstrak yang banyak dipengaruhi bahasa dan logika serta komunikasi dilakukan dengan pertolongan sistem symbol. Semakin dewasa seseorang maka system symbol ini semakin dominan. Peserta didik telah mampu memahami gagasan-gagasan abstrak. Peserta didik membuat abstraksi berupa teoti-teori, penafsiran, analisis dan sebagainya terhadap realitas yang telah diamati dan dialami.
The Act Of Discovery Learning Jerome Bruner terbagi dalam :
  • Pertama Perkembangan intelektual ditandai dengan adanya kemajuan dalam menanggapi suatu rangsangan.
  • Kedua Peningkatan pengetahuan tergantung pada perkembangan system penyimpanan informasi secara realis.
  • Ketiga Perkembangan intelektual meliputi perkembangan kemampuan berbicara pada diri sendiri atau pada orang lain melalui kata-kata atau lambang tentang apa yang telah dilakukan dan apa yang akan dilakukan. Hal ini berhubungan dengan kepercayaan pada diri sendiri.
  • Keempat  Interaksi secara sistematis antara pembimbing, guru atau orang tua dengan anak diperlukan bagi perkembangan kognitifnya. kelima Bahasa adalah kunci perkembangan kognitif, karena bahasa merupakan alat komunikasi antara manusia. Bahasa diperlukan untuk mengkomunikasikan suatu konsep kepada orang lain.
  • Keenam Perkembangan kognitif ditandai dengan kecakapan untuk mengemukakan beberapa alternative secara simultan, memilih tindakan yang tepat, dapat memberikan prioritas yang berurutan dalam berbagai situasi.

Tidak ada komentar: