Minggu, 12 Mei 2013

Cinta untuk Mentari Pagiku

              Senja masih bergelayut manja pada serngingi langit saat Aku melompat menaiki Bus terakhir yang akan mengangkutku pulang. Bus berukuran 10x9 ini mulai bergerak perlahan meninggalkan pelataran parker Istana. Hembus AC menerpa wajahku saat ku hempaskan pantatku pada dudukan baris terakhir Bus. Sopirnya memberitahu tujuan Bus ini dan mengucapkan selamat berlibur akhir pecan. Ah ritual basa-basi protokoler.
                Yang ada di benakku saat ini hanya segera pulang dan bersiap-siap menjemput mentari pagiku, Ia pasti senang sekali malam ini. Kemarin aku berjanji akan menemaninya jalan-jalan, esok akhir pekan, aku sangat suka membuat kejutan kecil untuknya. Tak sabar rasanya melihat senyum manjanya melihatku datang dengan kaos marun yang minggu lalu sempat kami beli di Pasar Minggu. Fikiranku melanglang buana berlari mendahuluiku pulang kerumah.
                Aku kembali melamun menatap jendela, diluar terlihat semburat kemuning senja begitu indah, pertanda malampun akan menjemput bintang-bintang menghiasi langit. Hatiku berbunga memikirkan apa yang sudah Aku rencanakan, Mentari pagiku pasti bahagia melihatku datang lagi malam ini. Ini kali ketigaku mendatangi rumahnya setelah dua tahun kami tak bertemu. Sudah ku susun pembicaraan apa saja yang nanti akan kubicarakan dengan Ayahnya atau adik lelakinya yang menggemaskan itu. Mentari pagiku, aku tak sabar ingin bertemu denganmu. Ku rebahkan kepalaku pada sandaran kursi, meregangkan otot-otot kakiku yang kaku seharian ini bekerja.
                “Sore bu” ku kecup kening Ibu yang sedang menata kue di dapur
                “Sudah pulang Le” Tole, panggilan kesayangan Ibu untuk anak Laki-lakinya
                “Iya bu, Nanti malam Saya ijin keluar ya bu”

 
                “Mau kemana ? nanti malam tak usah keluar dulu Le, keluarga dari Kadimangu mau datang. Sekarang mereka lagi dirumah paklekmu, sudah mandi dulu kemudian lekas bantu Ibu menata Ruang tamu agar sedikit lebih luas untuk duduk”
‘Deg’
Tak biasanya intonasi bicara Ibu seperti ini. Hatiku gelisah menunggu malam. Bukan aku tidak senang kedatangan saudara-saudaraku dari jauh, tapi malam ini aku telah menyusun rencana indah untuk mentari pagiku. Meskipun Aku yakin Mentari Pagiku pasti memaafkan Aku yang tak datang malam ini, membayangkanya Aku tidak tega melihat lengkung busur dibibirnya yang cemberut. Aku ingin selalu melihatnya tersenyum, aku tak ingin ia kecewa.
                “Malam ini Ibu ingin kamu menikah dengan Tri, anak Kemenakan Ibu yang buncit” Ucapan ibu setengah memohon padaku. Bagai kilat di tengah siang menyambar ulu hatiku, tangan lembutnya menaruh sekotak cincin kecil dipangkuanku. Tubuhku terbujur kaku seketika. Bagaimana mungkin Ibu secepat ini memutuskan sesuatu yang akan menjadi jalan hidupku. Bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan orang yang tidak aku cintai. Lidahku kelu tak bisa berucap sepatah katapun, ingin rasanya aku berlari menjauh dari rumah ini. Aku tak bisa membantah perkataan Ibu, Aku tak tega melihatnya memohon seperti itu.
                “Le, Tri dan Ibunya sudah melunasi semua hutang-hutangmu di Bank. Siang tadi orang Bank sudah yang ketiga kalinya mendatangi rumah kita, mereka bilang rumah ini akan disita jika kita tak segera melunasi hutang-hutang kita. Genduk Tri itu sudah tawadlu’ pada ibu, dia menyerahkan semua hasil jerih payahnya di Hongkong untuk kita, untuk melunasi semua hutang-hutang mu Le”
Bagaikan tersengat ribuan Volt Ampere listrik aku terdiam, memutar otak untuk menggagalkan rencana Ibu. Tapi pada akhirnya aku harus pasrah, baru satu minggu aku bekerja di kantor yang baru. Tak ada jalan lain untuk ku menghindar, lagipula, semua hutangku sudah di lunasinya. Aku tak mungkin bisa mengganti secepat itu. Kepalaku pening, pandanganku kabur. Sudah kesekian kali Ibu memaksaku menikah dengan Tri, tapi aku menolak karena aku punya mentari pagi yang akan setia menemaniku. Kurasakan sesak didadaku semakin membuncah, aku merasa lemah tak berdaya menghadapi permintaan Ibu kali ini. Sudah berkali-kali aku berjanji pada Ibu akan segera melunasi hutang-hutangku di Bank.
Betapa sakitnya hati ini menghirup udara malam, langit tetap cerah dengan gemintang yang menghiasinya. Bimbang ku timang-timang Handphone yang ada ditanganku. Aku harus memberi Mentari Pagiku kabar, agar ia tidak cemas menungguku. Aku gamang harus memulainya darimana, jika ku bilang langsung to the point ia pasti menangis. Tak akan tega aku melihantnya menangis.
“Le, ayo cepat masuk” Kakak lelaki tertuaku memanggilku masuk, dengan senyum yang mengembang disambutnya aku di ambang pintu. Ku hampiri ia dengan tertunduk lesu.
“Jangan berwajah masam seperti itu Le, keluarga besan sudah menanti didalam” sambutnya sambil merapihkan kerah jasku. Malam ini aku seperti berjalan menuju altar kematian dengan iringan langkah kakiku sendiri. Hatiku beku melangkah menghampiri penghulu yang sudah siap dengan Mahar yang Tadi sore Ibu berikan. Bagaimana bisa aku menikah tanpa cinta dengan orang yang tidak kukenal. Ya aku bukan tidak mengenalnya, tapi Ia bukan pilihan hatiku untuk mencintainya. Sejak kecil bersama tak pernah sedikitpun terbersit dibenakku untuk menikahi perempuan yang usianya setahun lebih tua dariku.
“Tidak perlu cinta untuk sebuah pernikahan Le, dulu Ibu dan Ayahmu juga tidak saling cinta saat menikah dulu. Tapi kami saling bahagia dan saling mencintai sampai ajal menjemputnya” nasihat Ibu tadi sore tetap tidak mampu meredam kedongkolanku atas keputusan sepihak Ibu ini. Aku marah pada diriku yang lemah tak berdaya, aku marah tak bisa mempertahankan cintaku pada Mentari pagiku. Aku marah tak bisa membawanya menuju gerbang pernikahan. Aku marah tidak bisa membawa Mentari Pagiku kehadapan penghulu seperti malam ini. Ku simpan amarahku jauh dalam dasar jiwaku, aku tak ingin melihat Ibu sedih, terlebih aku harus menjaga kondidi Ibu yang sudah sakit-sakitan. Aku tak ingin melihat tubuh rentanya menanggung beban hidup karena ku tak kunjung meng-iya-kan keinginan Ibu.
Seandainya Aku lebih berani seperti kakak, dulu ia juga menolak dijodohkan dengan gadis pilihan Ibu dengan menghamili pacarnya. Andai aku bisa menghamili Mentari Pagiku agar aku mempunyai alasan untuk membatalkan perjodohan ini, andai aku tega menodai kepolosannya mungkin kini kita telah bersanding bahagia di pelaminan ini. Kan ku genggam erat lembut jemarinya diataas pelaminan ini, menunjukkan bahwa aku sangat mencintai Mentari pagiku. Aku sangat mencintai ia sebagai pendamping hidupku. Ah seandainya dulu aku berani menodainya. Aku pasti sudah bahagia dengannya bukan dengan wanita lain pilihan Ibu yang dulu sempat dijodohkan dengan kakakku.
Dua bulan sudah aku tak mengabarinya, aku terlalu takut melihatnya menangis. Aku terlalu takut membuatnya sedih, aku tidak tega melihat Mentari Pagiku muram durja Karena kelemahanku yang tak mampu mempertahankan cinta kita.


                                                                                                Liyaa Mahfudz