Selasa, 22 Desember 2015

Filsafat Illuminasi Suhrawardi



   Sejarah membuktikan bahwa perkembangan filsafat di dunia Islam terinspirasi dari pemikiran para filosof Yunani yang telah mendominasi ranah intelektual manusia jauh sebelum agama Islam diturunkan. Secara umum, pemikiran para filosof muslim merupakan sintesa sistematis antara ajaran-ajaran Islam, Aristotelianisme, dan Neo-Platonisme baik yang berkembang di Athena maupun di Alexandria (Nashr, 1964:411).
Sintesa yang dilakukan pada dasarnya bertujuan untuk mengharmoniskan hubungan antara filsafat dengan ajaran Islam.   Upaya untuk mengharmoniskan hubungan filsafat dengan agama diawali oleh al-Kindî. Menurutnya, filsafat adalah pengetahuan yang benar (knowlwdge of truth) dan agama juga diwahyukan untuk menyampaikan kebenaran. Oleh karena filsafat dan agama menjadikan kebenaran sebagai tujuan, maka keduanya tidak mungkin bertentangan antara satu dengan lainnya. Harmonisasi antara filsafat dan agama selanjutnya diteruskan oleh al-Farâbî  dan Ibn Sînâ. Keduanya cenderung mengikuti aliran Neo-Platonisme yang banyak diminati pada waktu itu. Pemikiran Neo-Platonisme yang mewarnai pemikiran kedua filosof ini adalah mengenai teori emanasi. Filsafat emanasi yang dikembangkan oleh kedua filosof muslim tersebut memberikan dampak yang cukup luas di kalangan filosof muslim yang muncul kemudian.

The Extended Muslim Family



According to Islamic teachings, the family is the foundation of society. But the family is not limited only to one’s parents, brothers, and sisters. The Muslim family is a network of relatives near and far, all of whom have rights and responsibilities in the family structure.

Respect for Parents and Elders
A Muslim's duties to his or her parents are secondary only to duties toward Allah, their Lord and Creator. The Prophet Muhammad once asked his companions. "Shall I inform you of the biggest of the major sins?" He repealed the question three limes, until tin- people answered. "Yes, please inform us." Then, he said. "Ascribing partners to Allah, and being undutiful to your parents."

Tolerance of Diversity



            Diversity in Allah's creation is not only in colors and languages, but also in ideas and ways of life. The Qur'an makes clear that Allah intentionally did not create us all as carbon copies of each other. We have the opportunity to learn from each other and gain a new perspective, particularly when learning about people who are different, from ourselves. As the Qur'an proclaims God's words, "Oh mankind! We created you from a single soul, male and female, and made you into nations and tribes, so that you may come to know one another. Truly, the most honored of you in God's sight is the greatest of you in piety. God is All-Knowing. All Aware" (-19:13).
            There are places in time and history when Muslims were known to be the most tolerant nation on earth. Unfortunately, there are also many examples of Muslims who have allowed arrogance, pride, and greed to get the better of them.

Islamic Manners and Morals

Islam provides clear guidance to its fol­lowers on how they should conduct themselves in their daily lives. In his or her interactions with others, a Muslim is to have the best of manners. The root of the word "Islam" is "peace," and Muslims are to be peaceful in word and deed, treat people with kindness and mercy, and be tolerant and just.
 
Equality and Tolerance
Islam is known for its teachings about the equality of all people, regardless of race, ethnicity, or linguistic background. Muslims regard the diversity of life as a sign of the beauty of Allah's creation: "And among His Signs is the creation of the heavens and the earth, and the variations in your languages and your colors. Verily in that are signs for those who know" (Qur'an 30:22). Many of the first Muslims were from the lowest classes of society-slaves, women, and orphans—who were attracted by Muhammad's message of human worth and equality.
 

Rabu, 28 Oktober 2015

HEALTH PSYCHOLOGY, EMBODIMENT AND THE QUESTION OF VULNERABILITY

The general conception of the body that underpins most health psychology research derives from assumptions that underlie psychology as a quasi-science. However, when applied to questions of illness, these assumptions are worked through in a special way.  As well as sharing certain basic premises of the parent discipline, health psychology takes as its questions problems defined by medicine, including a particular attitude to the bodies of its clients.
As a result, health psychology journals are filled with articles that deal with how patients cope with, recover from, are liable to, or in some way think, talk or act in relation to their having a particular diagnostic label attached to them.

PERBANDINGAN TEORI BELAJAR KOGNITIF DAN TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK

Teori Belajar Behavioristik dan Teori Belajar Kognitif

Salah satu teori belajar, yang merupakan teori awal tentang belajar adalah Teori behaviorisme yaitu teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Ada 3 jenis belajar menurut teori behaviorisme yaitu (1) Respondent Conditioning, (2) Operant Conditioning dan (3) Observational Learning atau social cognitive Learning.
Teori kognitif mengacu pada wacana psikologi kognitif, dan berupaya menganalisis secara ilmiah proses mental dan struktur ingatan atau cognition dalam aktifitas belajar. Cognition diartikan sebagai aktifitas mengetahui, memperoleh, mengorganisasikan, dan menggunakan pengetahuan (Lefrancois, 1985). Proses kognitif telah menjadi penting di bidang penelitian psikologi, seperti psikologi perkembangan dan penelitian tetntang motivasi. Salah satu faktornya ialah terbatasnya penjelasan mengenai aktivitas manusia yang diberikan oleh behaviorisme.

Learning Concept Psychology Cognitive Theory JEAN PIAGET & JEROME BRUNER


Piaget mengemukakan bahwa Inteligensi adalah ciri bawaan yang dinamis. Sebab tindakan yang cerdas akan berubah saat organisme itu makin matang secara biologis dan mendapat pengalaman. Inteligensi adalah bagian integral dari setiap organisme karena setiap organisme yang hidup selalu mencari kondisi yang kondusif untuk keberlangsungan hidup. Bagaimana kecerdasan memanifestasikan dirinya pada waktu tertentu akan selalu bervariasi sesuai kondisi yang ada. Teori Piaget sering disebut sebagai Epistemology Genetic, karena teori ini mendasari pada hereditas atau genetic yang dibawa oleh orang tua. Istilah genetik yang dimaksud mengacu pada pertumbuhan developmental warisan biologi.
Piaget memandang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual dari fungsi intelektual dari pemikiran yang konkret menuju pemikiran yang abstrak. Piaget meneliti perkembangan intelektual berdasarkan struktur yang terbentuk didalam individu akibat interaksinya dengan lingkungan. Inteligensi pada umumnya dapat diartikan sebagai kemampuan psikofisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat (Reber, 1988). Jadi Inteligensi sebenarnya bukan persoalan kualitas otak saja, melainkan juga kualitas organ-organ tubuh. Akan tetapi, memang harus diakui bahwa peran otak dalam hubungannya dengan inteligensi manusia lebih menonjol daripada peran organ-organ tubuh lainnya. Karena otak merupakan “Menara Pengontrol” hampir seluruh aktivitas manusia.