Tampilkan postingan dengan label Belajar Nulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar Nulis. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Mei 2015

Kesehatan Mental Dalam Perspektif Islam



Dalam kehidupan didunia ini setiap orang ingin merasakan kedamaian dan kebahagiaan. Mereka berlomba-lomba untuk mencapai kebahagiaan itu meskipun tidak semua dapat dipenuhi. Ada banyak rintangan yang menyebabkan keinginan itu sulit terjadi, sehingga mereka akan merasakan kegelisahan, kecemasan dan ketidakpuasan karena kegagalannya. Dalam buku Prof. Zakiah Drajat, dijabarkan bahwa keadaan yang tidak menyenangkan itu tidak terbatas kepada golongan tertentu saja, tetapi tergantung kepada cara orang menghadapi suatu persoalannya. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa ketenangan hidup dan ketentraman jiwa bukanlah didapatkan dari hal materislistik semata, namun lebih tergantung kepada cara dan sikap dalam menghadapi setiap persoalan tersebut.

Pengaruh Kesehatan Mental dalam Perspektif Islam



Kalau kita perhatikan kehidupan manusia dalam kesehariannya akan bermacam-macam yang terlihat, ada yang terlihat cemas meskipun kondisinya sedang sehat, dan ada yang terlihat bahagia meskipun sedang dilanda suatu penyakit dan kesusahan. Disamping itu ada pula orang-orang yang tidak memperhatikan kesehatannya dan tidak dapat bertanggung jawab terhadap kehidupannya.
Atas dasar sebab inilah banyak berkembang ilmu psikologis yang membahas perilaku manusia dan motif apa yang mendorongnya berperilaku sama meskipun dalam kondisi yang berbeda. Para ahli mulai mempelajari sebab-sebab yang membuat orang tidak mampu mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan dalam hidupnya sehingga ia kurang memperhatikan kesehatan atau berlebihan dalam mempengaruhi kesehatannya.
Pembahasan mengenai kesehatan mental dari segi islami-pun mulai dikaji oleh beberapa tokoh ahli. Mereka ingin menggambarkan kesejahteraan manusia tidak hanya diambil dari tercukupinya kebutuhan-kebutuhan materi yang terlihat dari lahirnya saja, akan tetapi juga kebutuhan jiwa akan kebahagiaan yang hakiki yaitu hubungan Sang Kholik dengan Ciptaan-Nya yang dapat mempengaruhi adanya sehat mental secara lahir dan batin.
Pengertian Kesehatan Mental menurut Prof. Dr. Zakiyah Darajat yang beliau tulis dalam bukunya yang berjudul sama. Beliau menuliskan bahwa Kesehatan Mental adalah terhindarnya seseorang dari gejala-gejala gangguan jiwa (Neuroses) dan dari gejala-gejala penyakit jiwa (Psychoses). 

(Review Journal) PSIKOLOGI DARI PERSPEKTIF ISLAM

PSIKOLOGI DARI PERSPEKTIF ISLAM: KONTRIBUSI DARI AWAL CENDEKIAWAN MUSLIM DAN TANTANGAN UNTUK PSIKOLOGI KONTEMPORER MUSLIM

Abstrak
Pada awal cendekiawan muslim secara luas menulis mengenai alamiah manusia dan menyebutnya Ilm-al Nafsiat atau pengetahuan diri. Pada banyak kasus, ide dari karya mereka terlihat orisinal untuk era teori dan praktik psikologi yang modern. Apa yang menarik adalah banyak dari apa yang ditulis cendekiawan muslim itu bercampur dengan filsafat islam dan ide ide religius. Jurnal ini mencakup kontribusi utama dan menonjol dari cendekiawan muslim di masa awal kepada psikologi dan garis besar yang dihadapi oleh para muslim saat ini dalam mengadaptasikan teori teori barat. Jurnal ini juga menawarkan beberapa rekomendasi pada psikologi pribumi dari masyarakat muslim yang tertarik mencari perspektif islam dari perilaku manusia.
Kata Kunci:  Psikologi Islam, Awal Cendekia Muslim, Sejarah Psikologi, Psikologi Muslim, Psikologi Pribumi.

Islam adalah agama utama di dunia dan ada jumlah muslim yang berkembang di barat, sebagian di amerika utara dimana populasi muslim diperkirakan mencapai antara 4 sampai 6 juta jiwa (Haddad,1991: Hussain and Hussain,1996). Pertumbuhan populasi muslim yang tajam terlihat pada dua dekade terakhir dan terus bertumbuh terus menerus. Walaupun perkembangan muslim tidak setinggi dibandingkan dengan kelompok atau agama lain, ketertarikan pada islam dan muslim secara signifikan telah meningkat setelah insiden 11 september di amerika. Disamping informasi muslim di media, literatur ilmu pengetahuan sosial sekarang penuh dengan aspek budaya sosio-politik Arab/Muslim. Dengan peningkatan populasi muslim di amerika dan minat dalam ilmu sosial di komunitas minoritas ini, menjadi sangat penting bahwa sudut pandang islam pada isu yang terkait dengan psikologi diperkenalkan didalam aliran utama literatur. Sebuah penyelidikan pada tradisi intelektual kepercayaan muslim mengenai alamiah manusia dan metodologi penanganan yang dapat diungkap untuk seseorang dalam membantu profesi yang mungkin menangani klien muslim dalam praktik, mengajar ataupun penelitiannya. Sementara banyak muslim yang sangat dipengaruhi oleh Qur’an dan Hadist, beberapa dipengaruhi oleh karya awal cendekiawan muslim  yang berkontribusi di ranah ilmu alam dan sosial. Apa yang membuat karya mereka unik adalah bahwa mereka didasari oleh filsafat islam dan konsep Ketuhanan. Pengetahuan dari perspektif islami dapat berjalan sebagai bagian dari pelatihan sensitifitas budaya untuk penelitian. Jurnal ini mengeksplorasi kontribusi awal cendekiawan muslim (tokoh universal) pada psikologi dan memfokuskan pada dilema yang dikemukakan oleh psikologi barat pada profesional muslim dan klien yang diikuti oleh beberapa rekomendasi umum.

CENDIKIAWAN MUSLIM dari perspektif Islam dan Psikologi


Review Jurnal
Peningkatan populasi muslim secara tajam terus berkembang selama beberapa dekade terakhir, walaupun tidak setinggi agama dan kelompok lain, ketertarikan pada muslim dan islam secara signifikan telah meningkat sejak insiden 11 september silam di Amerika. Dengan peningkatan ketertarikan pada muslim ini, sangat penting untuk memperkenalkan sudut pandang islam dalam ilmu psikologi . banyak muslim yang pemikirannya dipengaruhi oleh al-qur’an dan hadits dan jugapemikiran cendekiawan awal muslim. Yang membuat pemikiran muslim unik adalah bahawa mereka didasari oleh filsafat islam dan konsep ketuhanan. Jurnal ini akan menjelaskan masa cendekiawan muslim yang penting setelah kepergian nabi Muhammad SAW (632 M), yaitu dimulai kontribusi pemikiran muslim selama 400 tahun setelah kepergian nambi Muhammad SAW.
Dalam karya cendekiawan muslim, istilah nafs (jiwa) digunakan untuk melambangkan kepribadian/fitrah alami manusia. Nafs meliputi qalb (hati), ruh (arwah), dan aql (akal) dan irada (kehendak). Dalam sejarah latar belakang pemikiran muslim, dapat dilihat bahwa itu semua didasari dari filsafat, yang menyelidiki semua bidang penyelidikan manusia (baik illahi atau manusia). Para muslim tertarik pada bidang filsafat adalah untuk memahami dan mengajak orang untuk berfikir mengenai keberadaan dan sifat-sifat Allah dan hadits Nabi dengan menggunakan pendekatan filsafat. Upaya ini disebut kalam yang mengarah pada dua aliran utama, yaitu rasionalis, dan tradisionalis/ortodoks.

Jumat, 23 Mei 2014

Malaikatku


Bahagiaku adalah selalu ada disimu dalam suka maupun duka
Karena denganmu aku bisa menjadi apa yang tak pernah aku bayangkan
Bahagia pada tiap senyum dan pelukanmu yang menghangatkan
Ada disisimu buatku jadi lebih berarti
Hingga aku paham bahwa hidup tak selalu berawan cerah
Kadangkala mendung menyertai
Kadangkala teriknya begitu menyengat dihati
Aku mungkin bodoh dengan menahanmu untuk terus bersamaku
Memaksamu pada ingin yang buatmu tersiksa
Malaikatku, Aku tak ingin mematahkan sayapmu
Dengan menahanmu untuk terus disampingku
Terbanglah tinggi sejauh kau ingin pergi
Namun ingatlah,
Saat kau lelah aku selalu menerimamu untuk kembali pulang
Saat kau tak mampu lagi untuk melangkah
Aku ada untuk membantumu melewati hari bersamamu


*Kepada Malaikat yang sllu melindungiku

Minggu, 02 Maret 2014

Sebait Cinta

Sejak mentari bersinar
Berkicau burung dengan riang
Semilir angin pun riang
Menyambut senyuman

Sejak bisa menuliskan sajak
Penaku kerap menorehkan nama
Yang aku sendiri tak pernah tau
Akupun tak pernah mengenalnya
Ia datang membawa setitik merah
Mewarnai pucuk hatiku yang basah

Hingga perlahan rona itu menyebar
Menjalar dalam rusukku
Seketika ia menjelma cinta
Nama yang titiknya pernah kau bawa
Selasar yang ronanya memberiku arti

Hati yang kau penuhi tawa didalamnya
Hati yang kau penuhi rasa didalamnya
Hati yang kau belai tangis didalamnya
Hati yang kau singgahi dengan hayati

My ONLY

Sabtu, 01 Maret 2014

Anjuran berbakti pada Kedua Orang Tua

Sudah begitu banyak artikel yg mengulas masalah ini. Dan tulisan kami disini hanya untuk memperkuat beberapa tulisan yang sudah ada.
Dalam perkembangan jiwa atau kepribadian seseorang dari mulai bayi hingga remaja hendaknya tidak hanya berkembang secara baik dalam arti fisik, tetapi juga secara kejiwaannya (psikologik). Yang dalam kajian ini diutamakan orangtua sebagai pemenuh kebutuhan kejiwaan bagi anaknya. Dalam pertumbuhannya seorang anak memerlukan dua jenis makanan. Yaitu makanan bergizi untuk pertumbuhan otak dan fisiknya, serta makanan dalam bentuk "gizi mental". Dan dalam bentuk yang kedua ini dapat diberikan berupa kasih sayang, perhatian, pendidikan dan pembinaan yang bersifat kejiwaan atau non fisik, yang dapat diberikan oleh kedua orangtua dalam kehidupan sehari-harinya.

Dari penjelasan diatas dapat kita lanjutkan penjelasannya bahwa Ayah dan Ibu adalah dua orang yang sangat berjasa dalam perkembangan seorang anak. Lewat keduanyalah anak-anak terlahir didunia ini. Didalam salah satu ayat al-qur'an dijelaskan sikap seorang anak terhadap orangtuanya. "Dan rendahlanlah dirimu terhadap kedua orangtua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah "Wahai Rabbku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah mendidik aku sewaktu kecil"" (Q.S. Al-Isra' : 24). Sehinga apabila anak itu telah dewasa ia akan berdoa "Wahai Rabbku, berilah aku petunjuk agar dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan agar aku dapat berbuat kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh aku bertobat kepada-Mu dan sungguh aku termasuk orang muslim" (Q.S. Al-Ahqaf : 15)

Dalam refernsi yang lain, kita dianjurkan untuk bertalwa kepada-Nya, serta melaksanakan hak dan kewajiban-Nya. Dan ketahuilah, hak manusia yang paling besar atas diri kalian ialah hak kedua orang tua dan karib kerabat. Allah menyebutkan hak tersebut berada pada tingkatan setelah hak-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وا عبدوا الله ولأ تشر كوا به شيئا وبااولدين احسنا

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa ... " [an-Nisâ'/4:36].

Begitu pula Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman dalam surat Luqmân/31 ayat 14:
وو صينا الأنسن بو لد يه
"(Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya, ...)"

Selanjutnya Allah menyebutkan alasan perintah ini, yaitu:
حملته أمه وهنا على وهن
"(ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah)".

Yakni keadaan lemah dan berat ketika mengandung, melahirkan, mengasuh dan menyusuinya sebelum kemudian menyapihnya.
Kemudian Allah berfirman:

وفصله فى عا مين أن اشكر لى ولو لد يك الى المصير

"(dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu. Hanya kepada-Kulah kembalimu)".
Nabi telah menjadikan bakti kepada orang tua lebih diutamakan daripada berjihad di jalan Allah. Disebutkan dalam shahîhaian dari 'Abdullâh bin Mas'ûd, ia berkata:

سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

"Aku bertanya kepada Nabi; "Amalan apakah yang paling utama?" Beliau menjawab,"Shalat pada waktunya." Aku bertanya lagi: "Kemudian apa lagi?" Beliau menjawab,"Berbakti kepada kedua orang tua." Aku bertanya lagi: "Kemudian apa lagi?" Beliau menjawab,"Berjihad di jalan Allah."

Dikisahkan dalam kitab Shahîh Muslim, bahwa ada seseorang datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam seraya berkata: "Aku berbaiat kepadamu untuk berhijrah dan berjihad di jalan Allah. Aku mengharap pahala dari Allah." Beliau bertanya,"Apakah salah satu dari kedua orang tuamu masih hidup?" Ia menjawab,"Ya, bahkan keduanya masih hidup," beliau bersabda,"Engkau mencari pahala dari Allah?" Ia menjawab,"Ya." beliau bersabda,"Pulanglah kepada kedua orang tuamu, kemudian perbaikilah pergaulanmu dengan mereka."
Disebutkan dalam sebuah hadits dengan sanad jayyid (bagus), ada seseorang berkata kepada Nabi : "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin berjihad namun aku tidak mampu melakukannya". Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya: "Apakah salah satu dari kedua orang tuamu masih ada?" Ia menjawab,"Ya, ibuku," beliau bersabda: "Temuilah Allah dalam keadaan berbakti kepada kedua orang tuamu. Apabila engkau melakukannya, maka berarti engkau telah berhaji, berumrah dan berjihad".

Allah Subhanhu wa Ta'ala juga telah berwasiat supaya berbuat baik kepada kedua orang tua di dunia walaupun keduanya kafir. Akan tetapi, apabila keduanya menyuruh untuk berbuat kufur maka sang anak tidak boleh menaati perintah kufur ini. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan".[Luqmân/31:15].

Disebutkan dalam kitab shahîhain, dari Asmâ' binti Abu Bakar Radhiyallahu 'anha, ia menceritakan ketika ibunya datang menyambung silaturrahmi dengannya padahal si ibu masih dalam keadaan musyrik.
Asmâ' Radhiyallahu 'anha bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :

يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي وَهِيَ رَاغِبَةٌ أَفَأَصِلُ أُمِّي قَالَ نَعَمْ صِلِي أُمَّكِ

"Wahai Rasulullah, ibuku datang kepadaku ingin (menyambung hubungan dengan putrinya, Asmâ'), apakah aku boleh menyambung hubungan kembali dengan ibuku". Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,"Ya, sambunglah."

Cara berbakti kepada kedua orang tua, ialah dengan mencurahkan kebaikan, baik dengan perkataan, perbuatan, ataupun harta.
Berbuat baik dengan perkataan, yaitu kita bertutur kata kepada keduanya dengan lemah lembut, menggunakan kata-kata yang baik dan menunjukan kelembutan serta penghormatan.

Berbuat baik dengan perbuatan, yaitu melayani keduanya dengan tenaga yang mampu kita lakukan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, membantu dan mempermudah urusan-urusan keduanya. Tentu, tanpa membahayakan agama ataupun dunia kita. Allah Mahamengetahui segala hal yang sekiranya membahayakan. Sehingga kita jangan berpura-pura mengatakan sesuatu itu berbahaya bagi diri kita padahal tidak, sehingga kitapun berbuat durhaka kepada keduanya dalam hal itu.

Berbuat baik dengan harta, yaitu dengan memberikan setiap yang kita miliki untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan oleh keduanya, berbuat baik, berlapang dada dan tidak mengungkit-ungkit pemberian sehingga menyakiti perasaan ibu bapak.
Dan ketahuilah, para jama'ah Jum'at rahimakumullah.

Berbakti kepada kedua orang tua tidak hanya dilakukan tatkala keduanya masih hidup. Namun tetap dilakukan manakala keduanya telah meninggal dunia. Ada sebuah kisah, yaitu seseorang dari Bani Salamah mendatangi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ia bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا قَالَ نَعَمْ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا

"Wahai Rasulullah, apakah masih ada cara berbakti kepada kedua orang tuaku setelah keduanya meninggal?" Beliau menjawab,"Ya, dengan mendoakannya, memintakan ampun untuknya, melaksanakan janjinya (wasiat), menyambung silaturahmi yang tidak bisa disambung kecuali melalui jalan mereka berdua, dan memuliakan teman-temannya". [HR Abu Dawud].

Allâhu Akbar! Demikianlah jama'ah Jum'at, betapa luas cakupan berbakti kepada kedua orang tua, bahkan termasuk di dalamnya keharusan memuliakan dan menyambung silaturahmi kepada teman kerabat.

Disebutkan dalam kitab Shahîh Muslim, dari 'Abdullâh bin 'Umar bin Khatthâb Radhiyallahu 'anhu :

"Suatu hari beliau Radhiyallahu 'anhu berjalan di kota Makkah dengan mengendarai keledai yang biasa beliau Radhiyallahu 'anhu gunakan bersantai jika bosan mengendarai unta. Lalu di dekat beliau lewatlah seorang Arab Badui. Lantas 'Abdullah bin 'Umar pun bertanya kepadanya:"Benarkah engkau Fulan bin Fulan?" Ia menjawab,"Ya," kemudian 'Abdullah bin 'Umar memberikan keledainya kepada orang itu sambil berkata,"Naikilah keledai ini." Beliau juga memberikan sorban yang mengikat di kepalanya seraya berkata,"Ikatlah kepalamu dengan sorban ini," maka sebagian sahabatnya berkata,"Semoga Allah mengampunimu. Mengapa engkau memberikan keledai kendaraan santaimu dan sorban ikat kepalamu kepada orang itu?" Maka 'Ibnu 'Umar menjawab: "Orang ini, dahulu adalah teman 'Umar (bapakku), dan aku pernah mendengar Rasulullah berkata,'Sesungguhnya bakti yang terbaik, ialah tetap menyambung hubungan keluarga ayahnya".

Pada khutbah pertama, telah kami sampaikan penjelasan mengenai kedudukan berbakti kepada orang tua dan keagungan martabatnya. Adapun balasan berbakti ini ialah pahala yang besar saat di dunia maupun akhirat. Barang siapa yang berbakti kepada orangtuanya, maka kelak anak-anaknya juga akan berbakti kepadanya, serta memberikan jalan keluar dari kesusahannya.
Dalam kitab Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim, dari hadits Ibnu 'Umar Radhiyallahu 'anhu disebutkan tentang kisah tiga orang yang ingin bermalam di gua, lalu merekapun masuk ke dalamnya. Begitu sampai di dalam gua, tiba-tiba sebongkah batu besar jatuh dan menutup mulut gua tersebut.

Merekapun kemudian bertawasul kepada Allah dengan amal-amal shalih yang pernah dikerjakan supaya mereka bisa keluar. Salah seorang dari mereka berkata:

Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai bapak dan ibu yang sudah sangat tua. Aku tidak pernah memberikan susu kepada keluarga maupun budakku sebelum mereka berdua.

Suatu hari, aku pergi jauh untuk mencari pohon dan belum kembali kepada mereka hingga mereka pun tertidur. Akupun memerah susu untuk mereka. Setelah selesai, ternyata aku mendapatkan mereka berdua telah tertidur. Aku tidak ingin membangunkannya dan tidak memberikan susu kepada keluarga maupun untukku sendiri. Aku terus menunggu mereka sambil membawa mangkuk susu di tanganku hingga terbit fajar. Mereka pun bangun dan meminum susu perahanku.

Ya Allah, sekiranya aku melakukan itu semua karena-Mu, maka bukakanlah batu yang telah menutupi kami ini.
Maka batu itupun bergeser sedikit. Kemudian demikian pula yang lainnya berdoa, bertawasul dengan amalan shalih yang pernah mereka kerjakan. Akhirnya, batu itupun bergeser sehingga gua terbuka dan mereka dapat keluar, kemudian kembali melanjutkan perjalanan.
Ketahuilah, berbakti kepada orang tua juga akan mendatangkan keluasan rizki, panjang umur dan khusnul khatimah.

Diriwayatkan dari Sahabat 'Ali bin Abi Thâlib bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang senang apabila dipanjangkan umurnya, diluaskan rizkinya dan dihindarkan dari sû'ul khatimah, maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah dan menyambung silaturahmi." Dan sesungguhnya, berbakti kepada orang tua merupakan wujud silaturahmi yang paling mulia, karena orang tua memiliki hubungan kekerabatan yang paling dekat dengan kita.

Seorang mukmin yang berakal, sungguh sangat tidak pantas berbuat durhaka dan memutuskan hubungan dengan kedua orang tua, padahal ia mengetahui keutamaan berbakti kepadanya, dan balasannya yang mulia di dunia maupun di akhirat. Larangan ini sangat besar.

Apabila telah mencapai usia lanjut, kedua orang tua akan mengalami kelemahan badan maupun pikiran. Bahkan keduanya bisa mengalami kondisi yang serba menyusahkan, sehingga menyebabkan seseorang mudah menggertak atau bersikap malas untuk melayaninya. Dalam keadaan demikian, Allah melarang setiap anak membentak, meskipun dengan ungkapan yang paling ringan. Tetapi Allah memerintahkan si anak supaya bertutur kata yang baik, merendahkan diri dalam perkataan maupun perbuatan di hadapan keduanya. Sebagaimana sikap seorang pembantu di hadapan majikannya. Demikian pula, Allah memerintahkan si anak supaya mendoakan keduanya, semoga Allah mengasihi keduanya sebagaimana keduanya telah mengasihi dan merawat si anak tatkala masih kecil.

Sang ibu rela berjaga saat malam hari demi menidurkan anaknya. Iapun rela menahan rasa letih supaya si anak bisa beristirahat dengan cukup. Adapun bapaknya, ia berusaha sekuat tenaga mencari nafkah. Letih pikirannya, letih pula badannya. Semua itu, tidak lain ialah untuk memberi makan dan mencukupi kebutuhan si anak. Sehingga sepantasnya bagi si anak untuk berbakti kepada keduanya sebagai balasan atas kebaikannya.

Dalam kitab shahîhain disebutkan dari Abu Hurairah, bahwasanya ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi: "Wahai Rasulullah, siapakah di antara manusia yang paling berhak aku pergauli dengan baik?" Rasulullah menjawab,"Ibumu." Orang itu bertanya lagi: "Kemudian siapa lagi?" Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Ibumu." Orang itu mengulangi pertanyaannya: "Kemudian siapa lagi?" Nabi pun kembali mengulangi jawabanya: "Ibumu." Iapun kemudian mengulangi pertanyaanya untuk yang ke empat kalinya: "Kemudian siapa?" Rasulullah menjawab: "Bapakmu."

Semoga Allah memberikan taufik-Nya, sehingga memudahkan kita untuk berbakti kepada ibu bapak. Dan semoga Allah memberi karunia kepada kita keikhlasan dalam melaksanakannya. Sesunggunya Dia-lah Dzat yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang.

[Diringkas oleh Ustadz Abu Sauda' Eko Mas'uri, dari ad-Dhiyâ-ul Lâmi', Syaikh Muhammad bin Shâlih al-'Utsaimîn, hlm. 501-504]
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 109/Tahun XI/1428H/2008 (Rubrik Khutbah Jum'at). Dan beberapa referensi lain di internet.

Makalah ini disusun untuk memenuhi nilai tugas pada mata kuliah KODE ETIK PSIKOLOGI
KELOMPOK 1
- Nisaul
- Vini
- Oryza savitri
- Khoirotul Awwaliyah (108070000165)

Senin, 12 Agustus 2013

Saat Hati menjadi Beku


Rio membelokkan mobilnya yang meluncur ke arah luar lingkar Jakarta. Sweeper di kaca depan berderit menyapu rinai hujan yang turun membasahi mobil. Rio membentuk bulatan pada kaca depannya. menghapus kabut yang mengembun. Udara dalam mobilnya membeku seiring hatinya yang biru.
“Halo, Pak. Bapak sedang dimana?” Suara di seberang sana terdengar panik dari Handsfree yang menyantel dikupingnya.
“Sedang di jalan. Ada apa?” pikiran Rio tenggelam pada hujan yang menghalangi jalannya.
“Aduh Pak, ada klien yang ingin bertemu bapak sekarang juga. Beliau Direktur perusahaan Mardiya Swasana. Sepertinya ada yang penting pak” Mulan sekretarisnya berusaha setenang mungkin menyampaikan berita ini.
“Biarkan saja” ujarnya cuek. Rio menghembuskan nafasnya berat dan mematikan sambungan telepon.
Pria itu mengusap wajahnya yang pias. Ia menggigit bibir bawahnya berusaha menghilangkan rasa bersalah dalam hatinya. Pikirannya kalut memikirkan Amira. Bagaimana mungkin ia bisa menerima kenyataan bahwa kekasihnya diambil orang lain.
“Aku akan menikah, Mas”
“Kamu serius, Honey” matanya tampak antusias.
“Iya Mas. Aku serius”
“Akhirnya” harapannya terkabul.
“Tapi….”
“Tapi apa Amira?”
“Tapi bukan dengan Mas”
“Apa??” seketika harapannya hancur, luruh bersama kepingan hatinya.
“Maafkan Aku, Mas” ucap wanita dihadapannya, lirih.
Sudah lama Rio menanti jawaban Amira atas pinangannya. Tapi wanita itu malah memberinya jawaban yang menyakitkan.
***
Surat kabar pagi ini dikejutkan dengan munculnya gossip yang menyebutkan Pengusaha MS melakukan perbudakan wanita dan berita kecelakaan maut di tol cipularang.


270 Words

Writing Excercis, Cara Menulis yang Jitu!

Halo sobat bloggy!!
Postingan kali ini saya ingin membagi pengalaman tentang hal tulis-menulis. Meskipun ini bukan pertama kalinya saya menulis tetapi rasanya menulis sesuatu yang dapat bermanfaat untuk orang lain adalah hal yang sulit. Bagi saya pribadi, menulis sudah menjadi hobi sejak bisa mengenal huruf abjad. Tulisan awal saya pernah memenangkan juara lomba cerita cinta dari Corneto di Majalah Gadis. Sebenarnya pada saat itu saya juga tidak terlalu yakin akan menang. Tetapi berkat dukungan teman dan guru saya terus mengolahnya menjadi sebuah tulisan yang menarik.
Kembali pada permasalahan menulis tadi. Saya masih terlalu sulit untuk mengawali sebuah karya tulis yang bagus. Alur yang runtut terkadang menjadi kendala dalam dunia menulis. Banyak komentar dari sensei-sensei KBM bahwa tulisan saya masih muter-muter di tempat. Padahal saya sudah berusaha untuk memperbaikinya.
Ternyata dalam dunia menulis, kunci utamanya adalah terus berusaha dan memulainya. Karena dengan mengawali sepatah kata maka sebuah tulisan akan mengalir dengan indah.
Di beberapa blog penulis saya menemukan tips-tips yang semoga bermanfaat untuk teman pembaca. Di antaranya :

1.       Menulis bebas
Menulis bebas adalah, menuliskan kejadian yang kita temui sehari-hari. Misalnya : “Setiap pagi lalu lintas selalu macet. Kendaraan yang begitu banyak merayap padat di jalan. Mereka memiliki satu tujuan yang sama yaitu menuju kantor, sekolah atau tempat kerja lainya. Kemacetan di sini semakin hari semakin bertambah. Karena banyaknya pengguna jalan beroda empat”
2.       Action
Lakukanlah ! Suatu tulisan tidak akan pernah ada sebelum kita memulainya. Jadi, kunci untuk menulis adalah sesegera mungkin menuangkan ide yang muncul di kepala kita. Maka ide-ide lain akan mengalir mengikutinya.
3.       Amati, Tiru dan Modifikasi
Setelah kita berusaha untuk terus menuliskan apa yang ingin kita tulis. Kemudian Amati sebuah artikel lain yang terkenal. Tiru cara penulisannya. Seperti tanda baca, alur dan motif bahasannya. Kemudian modifikasi dengan cara anda sendiri. Karena setiap penulis mempunyai taste dan gayanya masing-masing.
4.       Motivasi
Temukan motivasi anda untuk menulis. Dalam sebuah buku pernah dikatakan. “Bahwa menulislah untuk mengabadikan diri anda”


Jadi, segeralah temukan diri anda dalam tulisan. Do the best with write your self !