Tampilkan postingan dengan label Islamic Psychology. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islamic Psychology. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Desember 2015

Al-Farabi Founder Of Islamic Neoplatonism His Life, Works and Influence



Nama             : Khoirotul Awwaliyah
NIM                 : 108070000165
Semester         : 3D
Hal                   : 100-104
e-Book             : *)lupa, tapi nanti saya cantumkan

Karya paling terkenal dari Al- Farabi, berjudul the Opinions of the Inhabitants of the Virtuous City (al- Madinah al- Fad˙ilah), yang akan dijelaskan dalam bab berikutnya.

Adapun keadilan menurut Al- Farabi , seperti Aristoteles , dibedakan dalam berbagai makna. keadilan ( 'adl ) yang pertama adalah pemerataan hal-hal umum dan kehormatan , yang terdiri dari keamanan , properti dan sosial. Pemerataan hal-hal tersebut atau kehormatan seharusnya proporsional dengan manfaat penerima. Jika  lebih atau cacat, maka berhenti menjadi keadilan dan berubah menjadi kebalikannya atau injustice. Arti lain dari 'keadilan' , yang terdiri dalam manfaat kebajikan bagi manusia dalam kaitannya dengan orang lain, tidak peduli apa kebajikan yang terlibat. Arti keadilan menurut Aristoteles mengacu pada Nicomachean Ethics sebagai makna yang lengkap pada keadilan, atau fakta bahwa Ia yang memilikinya bisa latihan kebajikannya, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi terhadap tetangganya juga. Sifat dari keadilan itu sendiri merupakan kebajikan politik, yang mengatur hubungan warga satu sama lain dan bentuk inti dari Republik Plato , akan dibahas dalam bab berikutnya .

Filsafat Illuminasi Suhrawardi



   Sejarah membuktikan bahwa perkembangan filsafat di dunia Islam terinspirasi dari pemikiran para filosof Yunani yang telah mendominasi ranah intelektual manusia jauh sebelum agama Islam diturunkan. Secara umum, pemikiran para filosof muslim merupakan sintesa sistematis antara ajaran-ajaran Islam, Aristotelianisme, dan Neo-Platonisme baik yang berkembang di Athena maupun di Alexandria (Nashr, 1964:411).
Sintesa yang dilakukan pada dasarnya bertujuan untuk mengharmoniskan hubungan antara filsafat dengan ajaran Islam.   Upaya untuk mengharmoniskan hubungan filsafat dengan agama diawali oleh al-Kindî. Menurutnya, filsafat adalah pengetahuan yang benar (knowlwdge of truth) dan agama juga diwahyukan untuk menyampaikan kebenaran. Oleh karena filsafat dan agama menjadikan kebenaran sebagai tujuan, maka keduanya tidak mungkin bertentangan antara satu dengan lainnya. Harmonisasi antara filsafat dan agama selanjutnya diteruskan oleh al-Farâbî  dan Ibn Sînâ. Keduanya cenderung mengikuti aliran Neo-Platonisme yang banyak diminati pada waktu itu. Pemikiran Neo-Platonisme yang mewarnai pemikiran kedua filosof ini adalah mengenai teori emanasi. Filsafat emanasi yang dikembangkan oleh kedua filosof muslim tersebut memberikan dampak yang cukup luas di kalangan filosof muslim yang muncul kemudian.

The Extended Muslim Family



According to Islamic teachings, the family is the foundation of society. But the family is not limited only to one’s parents, brothers, and sisters. The Muslim family is a network of relatives near and far, all of whom have rights and responsibilities in the family structure.

Respect for Parents and Elders
A Muslim's duties to his or her parents are secondary only to duties toward Allah, their Lord and Creator. The Prophet Muhammad once asked his companions. "Shall I inform you of the biggest of the major sins?" He repealed the question three limes, until tin- people answered. "Yes, please inform us." Then, he said. "Ascribing partners to Allah, and being undutiful to your parents."

Tolerance of Diversity



            Diversity in Allah's creation is not only in colors and languages, but also in ideas and ways of life. The Qur'an makes clear that Allah intentionally did not create us all as carbon copies of each other. We have the opportunity to learn from each other and gain a new perspective, particularly when learning about people who are different, from ourselves. As the Qur'an proclaims God's words, "Oh mankind! We created you from a single soul, male and female, and made you into nations and tribes, so that you may come to know one another. Truly, the most honored of you in God's sight is the greatest of you in piety. God is All-Knowing. All Aware" (-19:13).
            There are places in time and history when Muslims were known to be the most tolerant nation on earth. Unfortunately, there are also many examples of Muslims who have allowed arrogance, pride, and greed to get the better of them.

Islamic Manners and Morals

Islam provides clear guidance to its fol­lowers on how they should conduct themselves in their daily lives. In his or her interactions with others, a Muslim is to have the best of manners. The root of the word "Islam" is "peace," and Muslims are to be peaceful in word and deed, treat people with kindness and mercy, and be tolerant and just.
 
Equality and Tolerance
Islam is known for its teachings about the equality of all people, regardless of race, ethnicity, or linguistic background. Muslims regard the diversity of life as a sign of the beauty of Allah's creation: "And among His Signs is the creation of the heavens and the earth, and the variations in your languages and your colors. Verily in that are signs for those who know" (Qur'an 30:22). Many of the first Muslims were from the lowest classes of society-slaves, women, and orphans—who were attracted by Muhammad's message of human worth and equality.
 

Kamis, 14 Mei 2015

Kesehatan Mental Dalam Perspektif Islam



Dalam kehidupan didunia ini setiap orang ingin merasakan kedamaian dan kebahagiaan. Mereka berlomba-lomba untuk mencapai kebahagiaan itu meskipun tidak semua dapat dipenuhi. Ada banyak rintangan yang menyebabkan keinginan itu sulit terjadi, sehingga mereka akan merasakan kegelisahan, kecemasan dan ketidakpuasan karena kegagalannya. Dalam buku Prof. Zakiah Drajat, dijabarkan bahwa keadaan yang tidak menyenangkan itu tidak terbatas kepada golongan tertentu saja, tetapi tergantung kepada cara orang menghadapi suatu persoalannya. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa ketenangan hidup dan ketentraman jiwa bukanlah didapatkan dari hal materislistik semata, namun lebih tergantung kepada cara dan sikap dalam menghadapi setiap persoalan tersebut.

Pengaruh Kesehatan Mental dalam Perspektif Islam



Kalau kita perhatikan kehidupan manusia dalam kesehariannya akan bermacam-macam yang terlihat, ada yang terlihat cemas meskipun kondisinya sedang sehat, dan ada yang terlihat bahagia meskipun sedang dilanda suatu penyakit dan kesusahan. Disamping itu ada pula orang-orang yang tidak memperhatikan kesehatannya dan tidak dapat bertanggung jawab terhadap kehidupannya.
Atas dasar sebab inilah banyak berkembang ilmu psikologis yang membahas perilaku manusia dan motif apa yang mendorongnya berperilaku sama meskipun dalam kondisi yang berbeda. Para ahli mulai mempelajari sebab-sebab yang membuat orang tidak mampu mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan dalam hidupnya sehingga ia kurang memperhatikan kesehatan atau berlebihan dalam mempengaruhi kesehatannya.
Pembahasan mengenai kesehatan mental dari segi islami-pun mulai dikaji oleh beberapa tokoh ahli. Mereka ingin menggambarkan kesejahteraan manusia tidak hanya diambil dari tercukupinya kebutuhan-kebutuhan materi yang terlihat dari lahirnya saja, akan tetapi juga kebutuhan jiwa akan kebahagiaan yang hakiki yaitu hubungan Sang Kholik dengan Ciptaan-Nya yang dapat mempengaruhi adanya sehat mental secara lahir dan batin.
Pengertian Kesehatan Mental menurut Prof. Dr. Zakiyah Darajat yang beliau tulis dalam bukunya yang berjudul sama. Beliau menuliskan bahwa Kesehatan Mental adalah terhindarnya seseorang dari gejala-gejala gangguan jiwa (Neuroses) dan dari gejala-gejala penyakit jiwa (Psychoses). 

(Review Journal) PSIKOLOGI DARI PERSPEKTIF ISLAM

PSIKOLOGI DARI PERSPEKTIF ISLAM: KONTRIBUSI DARI AWAL CENDEKIAWAN MUSLIM DAN TANTANGAN UNTUK PSIKOLOGI KONTEMPORER MUSLIM

Abstrak
Pada awal cendekiawan muslim secara luas menulis mengenai alamiah manusia dan menyebutnya Ilm-al Nafsiat atau pengetahuan diri. Pada banyak kasus, ide dari karya mereka terlihat orisinal untuk era teori dan praktik psikologi yang modern. Apa yang menarik adalah banyak dari apa yang ditulis cendekiawan muslim itu bercampur dengan filsafat islam dan ide ide religius. Jurnal ini mencakup kontribusi utama dan menonjol dari cendekiawan muslim di masa awal kepada psikologi dan garis besar yang dihadapi oleh para muslim saat ini dalam mengadaptasikan teori teori barat. Jurnal ini juga menawarkan beberapa rekomendasi pada psikologi pribumi dari masyarakat muslim yang tertarik mencari perspektif islam dari perilaku manusia.
Kata Kunci:  Psikologi Islam, Awal Cendekia Muslim, Sejarah Psikologi, Psikologi Muslim, Psikologi Pribumi.

Islam adalah agama utama di dunia dan ada jumlah muslim yang berkembang di barat, sebagian di amerika utara dimana populasi muslim diperkirakan mencapai antara 4 sampai 6 juta jiwa (Haddad,1991: Hussain and Hussain,1996). Pertumbuhan populasi muslim yang tajam terlihat pada dua dekade terakhir dan terus bertumbuh terus menerus. Walaupun perkembangan muslim tidak setinggi dibandingkan dengan kelompok atau agama lain, ketertarikan pada islam dan muslim secara signifikan telah meningkat setelah insiden 11 september di amerika. Disamping informasi muslim di media, literatur ilmu pengetahuan sosial sekarang penuh dengan aspek budaya sosio-politik Arab/Muslim. Dengan peningkatan populasi muslim di amerika dan minat dalam ilmu sosial di komunitas minoritas ini, menjadi sangat penting bahwa sudut pandang islam pada isu yang terkait dengan psikologi diperkenalkan didalam aliran utama literatur. Sebuah penyelidikan pada tradisi intelektual kepercayaan muslim mengenai alamiah manusia dan metodologi penanganan yang dapat diungkap untuk seseorang dalam membantu profesi yang mungkin menangani klien muslim dalam praktik, mengajar ataupun penelitiannya. Sementara banyak muslim yang sangat dipengaruhi oleh Qur’an dan Hadist, beberapa dipengaruhi oleh karya awal cendekiawan muslim  yang berkontribusi di ranah ilmu alam dan sosial. Apa yang membuat karya mereka unik adalah bahwa mereka didasari oleh filsafat islam dan konsep Ketuhanan. Pengetahuan dari perspektif islami dapat berjalan sebagai bagian dari pelatihan sensitifitas budaya untuk penelitian. Jurnal ini mengeksplorasi kontribusi awal cendekiawan muslim (tokoh universal) pada psikologi dan memfokuskan pada dilema yang dikemukakan oleh psikologi barat pada profesional muslim dan klien yang diikuti oleh beberapa rekomendasi umum.